Tuesday, January 28, 2020

Sebuah Cerita Diwaktu Senja IV


Baru saja rintik-rintik itu turun membasahi tanah yang sudah lama kering. Baunya yang khas membuatku tidak bisa berbohong bahwa aku suka itu. Ku kira indahnya sore hari ini akan memudar karna mendung telah datang tidak cerah seperti kemarin-kemarin. Tapi tidak. Justru aku bisa menemukan indah senja dari sisi yang berbeda. Memang tidak ada jingga atau mega merah. Yang ada Kumpulan awan abu yang meliuk-liuk, berkumpul tak beraturan membentuk panorama llangit yang menawan. Memang indah.

*****

Aku bergegas. Mengambil jaket yang tergantung dibelakang pintu dan menemui yoga teman yang tinggal disebelah rumahku.

 “Ga. pinjem motor mu ya.”

“oke. Jangan ngebut-ngebut masih hujan ini”
“iya”

Dia yang sudah ku kabari lewat sms tak begitu banyak bicara. Padahal sore itu hujan cukup deras tapi aku harus cepat. Aku yang buru-buru langsung tancap gas menembus rintik hujan yang cukup deras menuju sekolah.

Sore ini memang genting, darurat sekali. Kenapa? Karena Amel. dia yang mengabariku dari kemarin malam bahwa laptopnya rusak sedangkan besok lusa dia harus ujian praktek yang memang harus menggunakan laptop. Harusnya hari ini dia latihan untuk ujian itu. Dari awal aku sudah menawarkan untuk memakai laptopku tapi dia tidak mau. Dia mau mencoba membetulkan dulu laptopnya mungkin masih sempat. Tapi ternyata tidak. Tanpa banyak pikir sore itu aku buru-buru ke sekolah untuk meminjamkanya laptop.

“ko akang ke sekolah? Hujan-hujanan lagi.”

“untung yang turun air bukan batu ya. hehe” candaku.
“eeh malah ngelucu”
“laptopnya masih rusakkan? Nih pake punya akang. Biar malam ini kamu bisa latihan buat ujian besok”
“iya masih. Bener nih boleh dipinjem?”
“yaelah gak percaya amat. Lagi gak dipake juga ko. Ini udah dibawain sambil hujan-hujanan loh.”
“hehe. iya deh. Makasih ya” disusul dengan senyumnya yang merekah.

Aah Senyum itu lagi. Aku tak ingin senyum itu hilang dari wajah mu mel. Apapun yang bisa kulakukan akan ku usahakan untuk tetap membuat senyum itu tetap ada. Karena itulah kulakukan ini.

“yuk pulang. Akang anter pake motor. Udah sore jugakan”
“tapi akang basah gitu nanti sakit gak apa-apa emang?”
“alah. Basah gini aja biasa asal kamu mau di anter gak bakal sakit hehe”
“yaudah. Hayuu”

Sore itu untuk pertama kali nya aku membonceng dia. Senang sekali, beberda dengan langit yang masih mendung kelabu sehabis hujan. Padahal kalo diulang kembali tak habis pikir, dia yang mau ujian aku yang harus menanggung semua ini. Hujan-hujanan, basah, dingin tapi tidak menjadi beban untuku demi melihatnya tetap tersenyum. Aneh, dasar cinta, memang mengalahkan segalanya.

****

Menjelang maghrib gumpalan awan itu semakin hilang. Pergi tak tentu arah tapi masih menyisakan kelabu dilangit senja. Terimakasih untuk sore hari ini yang berbeda namun tetap indah dan menawan. Kau masih saja membuat seseorang ini terpana dari dulu hingga sekarang, meski hanya lewat lukisan langit sore. Semoga senyum mu masih tetap ada dan tak pernah hilang.