Wednesday, May 6, 2020

Apapun


Pernah mengalami dan merasakan teman-teman sejawatmu sudah mulai banyak sebar undangan sedangkan kau masih sibuk dengan duniamu sendiri, dengan mimpi mu sndiri atau malah terjebak dengan dirimu sndiri? Tenang Berarti kau tidak sendirian. Entah kenapa posisi seperti itu membuat kita menjadi aneh. Entahlah. Seperti ada dorongan kecil didalam hati dan pikiran untuk menyusul mereka padahal sebenarnya kita belum pernah terpikirkan ke arah sana karena masih banyak yang ingin diselesaikan atau karena posisi memang belum mengharuskan atau mungkin benang merah bersama dia belum bertemu. Menganggap ketika sudah berumah tangga urusan yang ingin kita selesaikan akan mulai berganti dengan urusan yang baru dan mulai melupakan urusan di masa sebelumnya. Tapi bersyukurnya aku masih bisa tenang untuk menghadapi pemikiran seperti itu, sampai akhir nya dia datang dan membuat segalannya berbeda.


****
Di hari jumat pagi yang cerah aku sudah bersiap dan rapih. Berkemeja, rambut tersisir, minyak wangi. Sungguh aneh karena biasanya aku cuek bebek kalo soal penampilan. terus untuk apa itu? Yang pasti bukan untuk upacara bendera, apalagi menghadap pak presiden yang terhormat. Yap! Untuk memenuhi undangan pernikahan dari seorang teman yang dulu pernah satu kelas denganku. LAGI. Sudah berapakali dibulan ini undang-undangan itu muncul. Terbesit pikiran aneh dalam kepalaku apa nikah bener ada musimnya ya? Tapi untuk acara yang sekarang terasa beda, yang biasanya aku berombongan bersama teman-teman sekarang aku harus datang sendiri karena mereka yang ku ajak berhalangan untuk hadir. Aneh rasanya, pergi ke acara sakral seperti itu lalu datang seorang diri, padahal memenuhi sebuah undangan itu sebuah kebaikan ya. Tapi ya sudahlah ya. Sesudah merasa siap dan cakep aku pun pamit dan berangkat bersama teman perjalananku, si kuda besi. Dengan cepat aku melesat dijalanan beraspal itu.

Sungguh drama sekali untuk sampai ke tempat acaranya. Selain harus datang sendirian lokasi acaranya bukan tempat yang kuhafal. Salah jalan dan puter arah sudah pasti ku alami di perjalanan tadi. Ku buka helm dan tidak lupa berkaca di spion untuk tampil maksimal. Sumpah! Cuma untuk acara seperti ini aku melakukan hal itu. Biar ada yang kesemsem? Bukan, takut mukanya ketinggalan hehe.

Ternyata sudah mulai ramai, banyak orang lalu-lalang sibuk kesana kemari yang kadang sekilas menatapku tanpa menyapa. Kenapa mereka seperti itu? Iyalah orang kita gak kenal. Rasa menjadi orang asing sangat terasa sekali, sampai membuatku aneh dan gugup. Aku hanya bisa menarik nafas panjang yang sebenernya itu tidak terlalu membantu.

Para tamu undangan diarahkan ke sebuah gedung kecil dimna acara ijabqobul di laksanakan, sudah pasti aku pun ikut dalam keramaian itu dan masih terasa asing. Aku yang mencari posisi duduk yang aman dan nyaman memilih di tengah supaya bisa melihat jelas acara yang berlangsung. Sesekali aku tersenyum kepada orang yang lewat atau kepada orang yang memilih duduk dekat denganku. Gak penting ya padahal, tapi gak apalah. Karena itu membuktikan betapa asingnya aku disana.

Acarapun dimulai, rangkaian-rangkaian acara sudah terlewati dan akhirnya masuk ke acara utama, aku yang sudah bosan dari tadi menguap berapakali akhirnya mulai bersemangat. Sang pembawa acara didepan yaitu dua orang wanita bergaun serbaputih, mulai membuka acara inti itu. Aku yang awalnya tidak terlalu memperhatikan mereka entah kenapa tertarik untuk memlirik salah satu diantara keduanya. Dan tak sadar disanalah kita saling bertatap, mata kita saling bertaut. Lebay banget ya. Tapi itu yang memang terjadi dan kalian harus percaya. Entah apa maksud dari tatapan itu tapi aku segera memalingkan pandanganku karena takut membuat dirinya nervous. Dia cantik dan lucu, mukanya bulat tapi tak cubby, lalu dibalut dengan kerudung putih, jago sekali tukang riasnya. Yang ku sadari saat itu berarti aku laki laki normal hehe. Kejadian lebay itu terjadi begitu cepat dan bahkan kilat sekali karena setelahnya aku tidak terlalu memikirkan tanda-tanda yang baru saja terjadi, tentang tatapan itu. Acara berlangsung lancar dan sama eperti acara pernikahan pada umumnya, setelahnya makan dan menyampaikan doa pada mempelai. Orang-orang masih hilirmudik dan sesekali aku melihat wanita MC itu. Akhirnya akupun pulang dan masih terasa asing. Meyebalkan.