Kini senja telah tampak. Terlukis indah
langit sore dengan pancaran sinar mataharinya yang khas. Aku terus termenung
melihat anggunnya sore ini yang cerah. Langit yang berwarna orange dan awan
yang berwarna-warni karena efek sinar matahari sore, sungguh membuatku berdecak
kagum. Subhanallah. Sungguh maha kuasa Rabb ku ini. Lama aku menatap langit
sore. Dan semakin lama sehingga membuatku yang sedang merindukan seseorang
seolah olah terhipnotis oleh langit senja. Bayangan dirinya muncul manambah
keindahan langit sore yang sedang ku lihat. Membuat jantungku berdetak semakin
cepat. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum. Kau selalu bisa
membuatku gugup ya.
Jauh dari
orang yang kita sayang sungguh sebuah siksaan. Itu yang ku alami sekarang ini. Perasaan
kepada seorang wanita yang sudah ku pendam hampir 2 tahun membuatku selalu
ingin menatap langit sore. Karena saat aku menatap senja seolah dirinya seperti
sedang berada disisiku dan membuatku selalu tak ingin beranjak memandang
matahari tenggelam sambil menunggu maghrib tiba. Keadaanku yang sekarang inilah
salah satu faktor aku jauh darinya. Aku yang baru lulus dari Sekolah Menengah
Atas (SMA) dan belum di beri rejeki untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi membuat nyaliku ciut kala bertemu denganya. Aku malu karena sekarang aku
jadi pengangguran dan belum menemukan pekerjaan. Entah apa yang Tuhan rencanakan
dengan menganugerahkan perasaan ini. Tapi yang aku tahu aku harus menjaga
perasaan ini agar tak lupa kepada-Nya.
****
“kang. Amel sakit. Dia lagi di UKS sekarang.”
Aku yang sedang asyik berbincang
dengan temanku di luar kelas, terkejut oleh kedatangan adik kelasku dan tak
banyak basa basi setelah mendengar apa yang dia katakan aku langsung menuju
UKS. Sesampainya di UKS aku langsung masuk. Pintu ku buka perlahan. Terlihat pemandangan
yang asing ku lihat karena baru pertama kali aku berkunjung ke UKS. Seperti di
rumah sakit. Di dalam ruangan terlihat ada 2 tempat pembaringan. Walaupun tempat
pembaringan itu terhalang oleh tirai namun terlihat ada seseorang yang sedang
terbaring di sana. Aku masuk perlahan, membuka sedikit tirai dan melongok
sedikit. Ternyata benar, itu dia. Amel.
“assalamualaikum..”
Dia yang awalnya menutup mata dengan
lengannya langsung melihat ke arahku. Sedikit membenarkan posisi tidurnya dan
membalas salamku.
“walaikumsalam..”
“kenapa? Tumben maen ke UKS hehe”
“apa sih kang. Amel lagi sakit bukan lagi maen” Terlihat
wajah dia yang bête oleh candaan ku tadi.
“hehe iya tau akang juga. Amel lagi sakit. Sakit apa? Apa
yang dirasa sekarang?
“pusing kang. Pusing banget. Rasanya bumi itu muter”
“ohya? Udah sarapan belum?”
“sudah..”
“terus sekarang masih terasa pusingnya?”
“Alhamdulillah udah agak enakkan. Akang gak masuk
kelas? Nanti dimarahin sama gurunya”
“ah. Tenang aja. Gurunya belum masuk dan lagi dikasih
tugas. Terus sekarang gimana? Mau tetep masuk kelas?”
“iya pasti kang. Kan sayang kalau ketinggalan
pelajaran”
“emm. Kebiasaan kamu. Kalau udah ngotot kaya gitu pasti
susah buat dibilangin. Harus diturutin.”
“hehe..” Dia tersenyum.
Senyuman itu. Sungguh membuatku tak
bisa berkata lagi. Membuatku gugup setengah mati.
“kang? Kenapa ngelamun?”
Aku yang tak sadar sedang melamun
terkejut dipanggil olehnya.
“oh. Engga. Siapa yang melamun. Cuma lagi mikirin
sesuatu. Baru kali ini kerasa pusingnya?
“udah beberapa kali sih kang. Tapi ini yang paling
parah.”
“emm yaudah istirahatin dulu aja sekarang mah. Kalau
memang mau masuk kelas hari ini pastiin kuat atau engga kondisi amel. Jangan terlalu
maksain.”
“iya kang. Emm makasih ya..”
“emm ko makasih? Yaudah akang ke kelas lagi ya. Kalo ada
apa apa sms akang”
“iya”
“wassalamualaikum..”
“walaikumsalam..”
Perasaan bersalah karena aku tidak
bisa berbuat sesuatu untuk keadaan dia sekarang. Walaupun sebenarnya masih
ingin berlama-lama dengannya tapi aku urungkan niat itu. Aku perlahan menuju
pintu keluar. Sebelum aku keluar aku berbalik untuk melihatnya lagi.
Saat pelajaran kedua hp ku bergetar.
Pertanda ada pesan masuk. Saat ku lihat ternyata pesan dari Amel. Langsung ku
buka pesan itu.
“Kang. Amel pulang. Sekarang lagi di jalan dianter
sama temen.”
Sengaja
aku tak balas pesan itu karena tak ingin mengganggunya dulu.
****
Maghrib telah tiba. Suara adzanpun
terdengar. Aku yang terbangun dari lamunanku. Sesekali menatap langit sore yang
sudah hampir gelap dan langsung beranjak ke tempat wudlu. Bermunajat dan
meminta yang terbaik kepada sang pemilik takdir. Yang paling mengerti dan
memahami apa yang pantas untukku dan dirinya.