Angin berhembus menggerakan rerumputan di sampingku.
Membuatku semakin nyaman untuk melihat langit sore yang sedang merekah. Langit senja
saat ini tidak berlukis jingga namun tetap saja menawan. Merah mudah, biru,
putih bercampur namun pasti membentuk suatu gambaran yang abstrak tapi cantik. Senyumku
pun sesekali muncul karena terpesona olehnya. Hujan sudah tak lama berkunjung, alampun
sakit. Beberapa bertahan namun ada juga yang tumbang karena sudah tak lama
terjamah oleh sejuknya air langit.
****
Sudah dua hari ini aku tidak enak badan. Demam
dan pening yang terasa memaksaku untuk tetap berbaring di ranjang kamar. Namun tetap saja,
dia ada sebagai penawar sakit ini. Tak jarang dia mengingatkanku untuk makan
teratur dan minum obat. Aku tau dia sedang sibuk oleh latihan drama disekolahnya
untuk tugas kelas, maka aku pun berusaha memberinya semangat walau cuma bisa lewat
dari pesan jarak jauh. Mempersiapkan segalanya supaya tampil maksimal. Hari ini
hari terakhir latihan karena besok tugas drama nya ditampilkan dan ditonton
oleh semua murid di sekolah. Aku yang ingin sekali menonton pentas seninya nekat
pergi ke sekolah walau pusing ini menyiksa. Aaah dasar cinta.
Sesampainya di sekolah tidak susah aku untuk
menemukan tempat dimana pentas seni itu di gelar, karena memang sudah ramai oleh murid
lain. Aku yang berjalan lambat namun pasti berusaha untuk masuk di kerumunan
itu supaya bisa menonton drama yang berlangsung. Ya. Melihat dia. Dia yang
sadar setengah kaget melihat ku yang sedang menontonya dan disusul oleh senyumnya
yang khas. Aah selalu senyum itu. Ku tonton semua dramanya hingga selesai supaya bisa berjumpa denganya.
“Ko akang ke sini. Emang udah sehat ya”
“Udah. Ini bisa sampe ke sekolah dengan selamat hehe”
“Padahal gak usah maksain, istirahat aja dirumah biar cepet sembuh”
“Dirumah juga bosen. Sekalian refreshing biar makin fit”
“Iya deh iya”
Berjumpa dengan mu maksudnya.
“Langsung pulang?” Tanyaku karena hari sudah mulai sore.
“Engga. Amel mau ke rumah bibi di sekitar sini”
“Yaudah. Bareng sekalian akang anter ya”
“Gak usah kan lagi sakit”
“Engga. Ini kuat buat datang ke sekolah. Apa lagi buat nganter amel. Gampang
hehe”
Dengan sedikit memaksa akhirnya aku berhasil
membujuk untuk mengantarnya ke rumah bibinya yang tak jauh dari sekolah. Entah kenapa,
seperti sihir dari negeri dongeng. Pusing yang mengganggu ku sekejap menghilang
ketika bisa bersamanya. Dia seperti obat. Semua sakit yang awalnya
terasa, sampai membuatku harus dengan susah payah untuk datang ke sekolah sirna
seketika. Senang akhirnya, bisa bertemu dan mengobrol dengannya.
Sesampai di rumah bibinya amel aku langsung pamit.
“Makasih loh udah di anter”
“Hahaha... Tenang, selalu menyenangkan pokoknya kalo sama amel. Yaudah akang
pamit pulang ya”
“Iya. Sampe rumah banyakin istirahat biar sakitnya hilang.
“Iya iya. Bawel kamu. Dah..”
“Dah...”
Hilang ko mel, kalo ada di dekat kamu.
Senyumnya menjadi penutup pemjumpaan kami sore
itu, sampai akhirnya aku pergi pulang. Sesampainya
di rumah. Aku bergegas ke kamar dan langsung ambruk di ranjang karena tak kuasa
menahan beban sakit yang terasa. Semua badan pegal. Namun senyum bahagia
terlukis di wajahku.
****
Aku tersenyum untuk kesekian kalinya sambil menatap langit yang mulai
meredup. Tentangnya bagiku, seperti halnya lukisan senja yang hampir setiap
hari ku tatap. Selalu bisa membuat hariku menyenangkan. Dan ku harap selalu
bisa merasakan itu meski sekarang hanya diwakilkan oleh lukisanNya di penghujung
hari . Akupun bergegas ke tempat wudhu karena adzan maghrib baru saja selesai.