Sunday, October 27, 2019

Sebuah Cerita Diwaktu Senja II


Bukan hal aneh. Tentang langit sore yang selalu indah. Tak sedikit orang yang terpana akan keelokan lukisan Tuhan di langit waktu sore. Termasuk aku. Dimana biasanya aku menikmati langit senja untuk menjadi teman menunggu maghrib tiba sambil merindukan seseorang yang tak kunjung bisa hilang dari pikiran ku. Melihat langit senja selalu bisa membuatku tenang, seperti bisa bercerita tentang apa yang kurasakan ini. Selalu bisa membuatku kembali hal-hal yang indah bersamanya waktu itu.

****
Hari libur menuju UAS membuatku harus berdiam di kamar. Tak ada banyak kegiatan, hanya bisa berguling tidak jelas dengan pikiran yang tak karuan. Sesekali aku cek hp ku berharap dia memberi kabar karena jelas aku rindu. Mungkin dia masih ada mata pelajaran gumamku. Dia yang beberapa minggu ini menemani ku meski tak secara langsung. Berhasil membuat dunia ku yang awalnya biasa-biasa saja menjadi lebih istimewa. Dia adik kelasku di sekolah. Yang awalnya kita tak sengaja bertemu di suatu acara syukuran sampai sekarang menjadi dekat sekaligus teman curhatnya karena dia sedang sedang menyukai seseorang. Benar, dia menyukai seseorang. Itu bagian yang tidak menyenangkan, faktaku tentangnya. Apalagi sesorang itu adalah temanku. Ya temanku. Jelas membuatku semakin tidak bahagia apalagi  ketika kali aku mendengarkan curhatanya membahas perasaanya tentang seseorang itu.
Hari sudah semakin siang, karena semakin bosan aku sengaja mengirim pesan menanyakan kabar dirinya.

“Mel?”

Tak selang lama dia membalas

“Iya kang?”
“Masih ada kelas ya?”
“Engga kang, hari ini gak belajar tapi diganti sama kegiatan bebersih kelas. Kan ada yang mau UAS bentar lagi”
“Haha. Siapa yang mau UAS?”
“Akang teteh kelas 12 yang mau ujian”
“Haha bener juga ya. Ehh nanti pulang habis beres disekolah ketemu yuk?”
“Boleh kang. Hayu”

Ini pertama kalinya aku mengajak dia ketemuan diluar skolah. karena biasanya ketemu cuma disekolah itu pun kalo gak berpapasan dikantin paling di masjid ketika waktu sholat. Gugup rasanya. Aku yang awalnya malas-malasan langsung bersemangat. Beranjak dari tempat tidur langsung pergi ke kamar mandi. Aku berpakaian seperti biasanya padahal mau bertemu orang yang istimewa, yaitulah aku. Karena aku orangnya biasa saja soal penampilan. Hanya pakai kaos berlapis jaket hoddie dan celana jeans pakai sendal capit gunung. Ya segitu saja, simpel tapi nyaman.
Waktu sudah menunjukan pukul jam 12 siang. Waktu dimana sekolah harus nya sudah bubar dan boleh pulang. Dengan semangat aku pamit dan langsung pergi ke sekolah menggunakan angkutan umum. Karena aku belum punya SIM jadi orang tua ku belum mengijinkanku untuk bawa motor sendiri. Sampai di tempat warkop dekat sekolah tempat ku menunggunya, aku mengambil hp dari saku jaket dan mengirim pesan padanya.

“Udah bubaran belum? Udah di depan sekolah nih”
“Belum kang. Bete nih, padahal udah beres dan waktunya pulang tapi masih belum boleh keluar sekolah.”
“Haha udah biasa begitukan. Tunggu aja palingan bentar lagi”
“Iya. Itu nunggu dimana kang?”
“Nunggu di warkop dekat sekolah”
“Oh oke. Amel kesana ya. Baru dibuka nih gerbangnya.”

Aku yang dari tadi menunggunya sudah tidak karuan. Gugup dan bingung nanti mau ngobrol apa ketika sudah bertemu. Dan ketika itu dia datang.

“Halo kang”

Mendengar suaranya aku semakin tak karuan. Aku menoleh ke arah sapaan itu melihat dirinya dengan senyumanya yang selalu bisa membuatku bahagia sekaligus gugup.

“Hai juga. Ciee udah berhasil pulang.”
“Hahaha. Ciee yang bentar lagi mau UAS”

Haha Aku pun tertawa mendengar cadaanya

“Mau kemana nih?” tanyaku
“Gak tau.”
“Kalo makan gimana, laper gak?”
“Hayu makan”

Tak lama kita bergegas ke tempat makan. Jalan berdua denganya untuk pertama kali adalah salah satu hal yang tak ku sangka. Senang dan gugup bercampur aduk tak karuan. Aku berusha bertanya banyak hal supaya aku bisa terbiasa denganya.

“Gimana sakit pusing-pusing yang waktu itu. Masih suka kerasa?”
“Kadang sih, suka datangnya tiba-tiba”
“Tapi udah ke dokter dan dikasih obatkan?”
“Iya udah”
“Syukur deh kalo udah diobatin. Banyakin istirahat aja jangan sampe telat makan. Kan kamu susah kalo soal makan.”
“Hehe iya iya.”

Sesampainya di tempat makan kami langsung memesan makanan yang kami inginkan dan masing-masing 1 gelas es teh manis ukuran besar. Ketika pesanan kami datang, yang bikin aneh ko teh yang kami pesan Cuma 1 dengan sedotan 2. Kami yang bingung dan kaget cuma bisa saling tatap terus tertawa bersamaan.

“Makasih ya mel udah mau bertemu dan diajak makan bareng.”
“Iya kang, amel juga seneng.”

Selesai makan aku ingin mengantarnya pulang. Tapi dia ingin pulang sendiri karena dia tahu jalan menuju rumahnya dan rumahku berlawanan jadi angkot yang kita pun berbeda. Aku menemaninya sampai angkot itu datang. Dia pamit dan tersenyum padaku, senyuman yang selalu membuatku senang sekali. Sampai angkot yang dia tumpangi hilang di belokan sana aku pun pergi dengan berterimaksih kepada hari ini.

****
Adzan maghribpun berkumadang dan langit senja semakin indah. Aku hanya bisa membalas keindahan itu dengan senyuman. Terimakasih untuk cerita dimasa lalu tentangnya. Selalu ku titipkan rindu ini lewat warna jingga mu yang mempesona beserta doa dariku untuknya.