Pernah mengalami
dan merasakan teman-teman sejawatmu sudah mulai banyak sebar undangan sedangkan kau
masih sibuk dengan duniamu sendiri, dengan mimpi mu sndiri atau malah terjebak
dengan dirimu sndiri? Tenang Berarti kau tidak sendirian. Entah kenapa posisi seperti
itu membuat kita menjadi aneh. Entahlah. Seperti ada dorongan kecil didalam
hati dan pikiran untuk menyusul mereka padahal sebenarnya kita belum pernah
terpikirkan ke arah sana karena masih banyak yang ingin diselesaikan atau
karena posisi memang belum mengharuskan atau mungkin benang merah bersama dia
belum bertemu. Menganggap ketika sudah berumah tangga urusan yang ingin kita
selesaikan akan mulai berganti dengan urusan yang baru dan mulai melupakan
urusan di masa sebelumnya. Tapi bersyukurnya aku masih bisa tenang untuk
menghadapi pemikiran seperti itu, sampai akhir nya dia datang dan membuat segalannya
berbeda.
****
Di hari jumat
pagi yang cerah aku sudah bersiap dan rapih. Berkemeja, rambut tersisir, minyak
wangi. Sungguh aneh karena biasanya aku cuek bebek kalo soal penampilan. terus
untuk apa itu? Yang pasti bukan untuk upacara bendera, apalagi menghadap pak presiden
yang terhormat. Yap! Untuk memenuhi undangan pernikahan dari seorang teman yang
dulu pernah satu kelas denganku. LAGI. Sudah berapakali dibulan ini undang-undangan itu
muncul. Terbesit pikiran aneh dalam kepalaku apa nikah bener ada musimnya
ya? Tapi untuk acara yang sekarang terasa beda, yang biasanya aku
berombongan bersama teman-teman sekarang aku harus datang sendiri karena mereka yang ku ajak berhalangan untuk hadir. Aneh rasanya, pergi ke acara sakral
seperti itu lalu datang seorang diri, padahal memenuhi sebuah undangan itu
sebuah kebaikan ya. Tapi ya sudahlah ya. Sesudah merasa siap dan cakep
aku pun pamit dan berangkat bersama teman perjalananku, si kuda besi. Dengan cepat
aku melesat dijalanan beraspal itu.
Sungguh drama
sekali untuk sampai ke tempat acaranya. Selain harus datang sendirian lokasi acaranya bukan tempat yang kuhafal. Salah jalan dan puter
arah sudah pasti ku alami di perjalanan tadi. Ku buka helm dan tidak lupa
berkaca di spion untuk tampil maksimal. Sumpah! Cuma untuk acara seperti ini
aku melakukan hal itu. Biar ada yang kesemsem? Bukan, takut mukanya ketinggalan
hehe.
Ternyata sudah
mulai ramai, banyak orang lalu-lalang sibuk kesana kemari yang kadang sekilas menatapku
tanpa menyapa. Kenapa mereka seperti itu? Iyalah orang kita gak kenal. Rasa menjadi
orang asing sangat terasa sekali, sampai membuatku aneh dan gugup. Aku hanya
bisa menarik nafas panjang yang sebenernya itu tidak terlalu membantu.
Para tamu
undangan diarahkan ke sebuah gedung kecil dimna acara ijabqobul di laksanakan,
sudah pasti aku pun ikut dalam keramaian itu dan masih terasa asing. Aku yang
mencari posisi duduk yang aman dan nyaman memilih di tengah supaya bisa melihat
jelas acara yang berlangsung. Sesekali aku tersenyum kepada orang yang lewat
atau kepada orang yang memilih duduk dekat denganku. Gak penting ya padahal, tapi gak
apalah. Karena itu membuktikan betapa asingnya aku disana.
Acarapun dimulai, rangkaian-rangkaian acara sudah terlewati dan akhirnya masuk ke acara utama, aku yang sudah
bosan dari tadi menguap berapakali akhirnya mulai bersemangat. Sang pembawa
acara didepan yaitu dua orang wanita bergaun serbaputih, mulai membuka acara inti itu. Aku yang awalnya
tidak terlalu memperhatikan mereka entah kenapa tertarik untuk memlirik salah satu diantara keduanya. Dan tak sadar disanalah kita saling bertatap, mata kita saling bertaut. Lebay banget ya. Tapi itu yang memang terjadi dan kalian harus percaya. Entah apa maksud dari tatapan itu tapi aku segera memalingkan pandanganku karena takut membuat dirinya nervous. Dia cantik
dan lucu, mukanya bulat tapi tak cubby, lalu dibalut dengan kerudung putih, jago sekali tukang riasnya. Yang ku sadari saat itu berarti aku laki laki normal hehe. Kejadian lebay itu terjadi
begitu cepat dan bahkan kilat sekali karena setelahnya aku tidak terlalu
memikirkan tanda-tanda yang baru saja terjadi, tentang tatapan itu. Acara berlangsung lancar dan sama
eperti acara pernikahan pada umumnya, setelahnya makan dan menyampaikan doa pada
mempelai. Orang-orang masih hilirmudik dan sesekali aku melihat wanita MC itu. Akhirnya akupun pulang dan masih terasa asing. Meyebalkan.