Saturday, April 11, 2015

Sebuah Cerita Diwaktu Senja


Kini senja telah tampak. Terlukis indah langit sore dengan pancaran sinar mataharinya yang khas. Aku terus termenung melihat anggunnya sore ini yang cerah. Langit yang berwarna orange dan awan yang berwarna-warni karena efek sinar matahari sore, sungguh membuatku berdecak kagum. Subhanallah. Sungguh maha kuasa Rabb ku ini. Lama aku menatap langit sore. Dan semakin lama sehingga membuatku yang sedang merindukan seseorang seolah olah terhipnotis oleh langit senja. Bayangan dirinya muncul manambah keindahan langit sore yang sedang ku lihat. Membuat jantungku berdetak semakin cepat. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum. Kau selalu bisa membuatku gugup ya.
            Jauh dari orang yang kita sayang sungguh sebuah siksaan. Itu yang ku alami sekarang ini. Perasaan kepada seorang wanita yang sudah ku pendam hampir 2 tahun membuatku selalu ingin menatap langit sore. Karena saat aku menatap senja seolah dirinya seperti sedang berada disisiku dan membuatku selalu tak ingin beranjak memandang matahari tenggelam sambil menunggu maghrib tiba. Keadaanku yang sekarang inilah salah satu faktor aku jauh darinya. Aku yang baru lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan belum di beri rejeki untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi membuat nyaliku ciut kala bertemu denganya. Aku malu karena sekarang aku jadi pengangguran dan belum menemukan pekerjaan. Entah apa yang Tuhan rencanakan dengan menganugerahkan perasaan ini. Tapi yang aku tahu aku harus menjaga perasaan ini agar tak lupa kepada-Nya.

****

“kang. Amel sakit. Dia lagi di UKS sekarang.”
Aku yang sedang asyik berbincang dengan temanku di luar kelas, terkejut oleh kedatangan adik kelasku dan tak banyak basa basi setelah mendengar apa yang dia katakan aku langsung menuju UKS. Sesampainya di UKS aku langsung masuk. Pintu ku buka perlahan. Terlihat pemandangan yang asing ku lihat karena baru pertama kali aku berkunjung ke UKS. Seperti di rumah sakit. Di dalam ruangan terlihat ada 2 tempat pembaringan. Walaupun tempat pembaringan itu terhalang oleh tirai namun terlihat ada seseorang yang sedang terbaring di sana. Aku masuk perlahan, membuka sedikit tirai dan melongok sedikit. Ternyata benar, itu dia. Amel.
“assalamualaikum..”
Dia yang awalnya menutup mata dengan lengannya langsung melihat ke arahku. Sedikit membenarkan posisi tidurnya dan membalas salamku.
“walaikumsalam..”
“kenapa? Tumben maen ke UKS hehe”
“apa sih kang. Amel lagi sakit bukan lagi maen” Terlihat wajah dia yang bĂȘte oleh candaan ku tadi.
“hehe iya tau akang juga. Amel lagi sakit. Sakit apa? Apa yang dirasa sekarang?
“pusing kang. Pusing banget. Rasanya bumi itu muter”
“ohya? Udah sarapan belum?”
“sudah..”
“terus sekarang masih terasa pusingnya?”
“Alhamdulillah udah agak enakkan. Akang gak masuk kelas? Nanti dimarahin sama gurunya”
“ah. Tenang aja. Gurunya belum masuk dan lagi dikasih tugas. Terus sekarang gimana? Mau tetep masuk kelas?”
“iya pasti kang. Kan sayang kalau ketinggalan pelajaran”
“emm. Kebiasaan kamu. Kalau udah ngotot kaya gitu pasti susah buat dibilangin. Harus diturutin.”
“hehe..” Dia tersenyum.
Senyuman itu. Sungguh membuatku tak bisa berkata lagi. Membuatku gugup setengah mati.
“kang? Kenapa ngelamun?”
Aku yang tak sadar sedang melamun terkejut dipanggil olehnya.
“oh. Engga. Siapa yang melamun. Cuma lagi mikirin sesuatu. Baru kali ini kerasa pusingnya?
“udah beberapa kali sih kang. Tapi ini yang paling parah.”
“emm yaudah istirahatin dulu aja sekarang mah. Kalau memang mau masuk kelas hari ini pastiin kuat atau engga kondisi amel. Jangan terlalu maksain.”
“iya kang. Emm makasih ya..”
“emm ko makasih? Yaudah akang ke kelas lagi ya. Kalo ada apa apa sms akang”
“iya”
“wassalamualaikum..”
“walaikumsalam..”
            Perasaan bersalah karena aku tidak bisa berbuat sesuatu untuk keadaan dia sekarang. Walaupun sebenarnya masih ingin berlama-lama dengannya tapi aku urungkan niat itu. Aku perlahan menuju pintu keluar. Sebelum aku keluar aku berbalik untuk melihatnya lagi.
Saat pelajaran kedua hp ku bergetar. Pertanda ada pesan masuk. Saat ku lihat ternyata pesan dari Amel. Langsung ku buka pesan itu.

“Kang. Amel pulang. Sekarang lagi di jalan dianter sama temen.”
            Sengaja aku tak balas pesan itu karena tak ingin mengganggunya dulu.

****

Maghrib telah tiba. Suara adzanpun terdengar. Aku yang terbangun dari lamunanku. Sesekali menatap langit sore yang sudah hampir gelap dan langsung beranjak ke tempat wudlu. Bermunajat dan meminta yang terbaik kepada sang pemilik takdir. Yang paling mengerti dan memahami apa yang pantas untukku dan dirinya.

No comments:

Post a Comment