Bukan hal aneh. Tentang langit
sore yang selalu indah. Tak sedikit orang yang terpana akan keelokan lukisan
Tuhan di langit waktu sore. Termasuk aku. Dimana biasanya aku menikmati langit
senja untuk menjadi teman menunggu maghrib tiba sambil merindukan seseorang
yang tak kunjung bisa hilang dari pikiran ku. Melihat langit senja selalu bisa
membuatku tenang, seperti bisa bercerita tentang apa yang kurasakan ini. Selalu
bisa membuatku kembali hal-hal yang indah bersamanya waktu itu.
****
Hari libur menuju UAS membuatku
harus berdiam di kamar. Tak ada banyak kegiatan, hanya bisa berguling tidak
jelas dengan pikiran yang tak karuan. Sesekali aku cek hp ku berharap dia
memberi kabar karena jelas aku rindu. Mungkin dia masih ada mata pelajaran
gumamku. Dia yang beberapa minggu ini menemani ku meski tak secara langsung. Berhasil
membuat dunia ku yang awalnya biasa-biasa saja menjadi lebih istimewa. Dia adik
kelasku di sekolah. Yang awalnya kita tak sengaja bertemu di suatu acara
syukuran sampai sekarang menjadi dekat sekaligus teman curhatnya karena dia sedang
sedang menyukai seseorang. Benar, dia menyukai seseorang. Itu bagian yang tidak
menyenangkan, faktaku tentangnya. Apalagi sesorang itu adalah temanku. Ya temanku.
Jelas membuatku semakin tidak bahagia apalagi ketika kali aku mendengarkan curhatanya membahas
perasaanya tentang seseorang itu.
Hari sudah semakin siang, karena semakin bosan aku sengaja
mengirim pesan menanyakan kabar dirinya.
“Mel?”
Tak selang lama dia membalas
“Iya kang?”
“Masih ada kelas ya?”
“Engga kang, hari ini gak belajar tapi diganti sama kegiatan
bebersih kelas. Kan ada yang mau UAS bentar lagi”
“Haha. Siapa yang mau UAS?”
“Akang teteh kelas 12 yang mau ujian”
“Haha bener juga ya. Ehh nanti pulang habis beres disekolah
ketemu yuk?”
“Boleh kang. Hayu”
Ini pertama kalinya aku mengajak
dia ketemuan diluar skolah. karena biasanya ketemu cuma disekolah itu pun kalo
gak berpapasan dikantin paling di masjid ketika waktu sholat. Gugup rasanya. Aku
yang awalnya malas-malasan langsung bersemangat. Beranjak dari tempat tidur langsung
pergi ke kamar mandi. Aku berpakaian seperti biasanya padahal mau bertemu orang
yang istimewa, yaitulah aku. Karena aku orangnya biasa saja soal penampilan. Hanya
pakai kaos berlapis jaket hoddie dan celana jeans pakai sendal capit gunung. Ya
segitu saja, simpel tapi nyaman.
Waktu sudah menunjukan pukul jam
12 siang. Waktu dimana sekolah harus nya sudah bubar dan boleh pulang. Dengan semangat
aku pamit dan langsung pergi ke sekolah menggunakan angkutan umum. Karena aku
belum punya SIM jadi orang tua ku belum mengijinkanku untuk bawa motor sendiri.
Sampai di tempat warkop dekat sekolah tempat ku menunggunya, aku mengambil hp
dari saku jaket dan mengirim pesan padanya.
“Udah bubaran belum? Udah di depan sekolah nih”
“Belum kang. Bete nih, padahal udah beres dan waktunya
pulang tapi masih belum boleh keluar sekolah.”
“Haha udah biasa begitukan. Tunggu aja palingan bentar lagi”
“Iya. Itu nunggu dimana kang?”
“Nunggu di warkop dekat sekolah”
“Oh oke. Amel kesana ya. Baru dibuka nih gerbangnya.”
Aku yang dari tadi menunggunya sudah tidak karuan. Gugup dan
bingung nanti mau ngobrol apa ketika sudah bertemu. Dan ketika itu dia datang.
“Halo kang”
Mendengar suaranya aku semakin
tak karuan. Aku menoleh ke arah sapaan itu melihat dirinya dengan senyumanya yang
selalu bisa membuatku bahagia sekaligus gugup.
“Hai juga. Ciee udah berhasil pulang.”
“Hahaha. Ciee yang bentar lagi mau UAS”
Haha Aku pun tertawa mendengar cadaanya
“Mau kemana nih?” tanyaku
“Gak tau.”
“Kalo makan gimana, laper gak?”
“Hayu makan”
Tak lama kita bergegas ke tempat
makan. Jalan berdua denganya untuk pertama kali adalah salah satu hal yang tak
ku sangka. Senang dan gugup bercampur aduk tak karuan. Aku berusha bertanya banyak
hal supaya aku bisa terbiasa denganya.
“Gimana sakit pusing-pusing yang waktu itu. Masih suka
kerasa?”
“Kadang sih, suka datangnya tiba-tiba”
“Tapi udah ke dokter dan dikasih obatkan?”
“Iya udah”
“Syukur deh kalo udah diobatin. Banyakin istirahat aja
jangan sampe telat makan. Kan kamu susah kalo soal makan.”
“Hehe iya iya.”
Sesampainya di tempat makan kami langsung
memesan makanan yang kami inginkan dan masing-masing 1 gelas es teh manis ukuran
besar. Ketika pesanan kami datang, yang bikin aneh ko teh yang kami pesan Cuma 1
dengan sedotan 2. Kami yang bingung dan kaget cuma bisa saling tatap terus
tertawa bersamaan.
“Makasih ya mel udah mau bertemu dan diajak makan bareng.”
“Iya kang, amel juga seneng.”
Selesai makan aku ingin mengantarnya
pulang. Tapi dia ingin pulang sendiri karena dia tahu jalan menuju rumahnya dan
rumahku berlawanan jadi angkot yang kita pun berbeda. Aku menemaninya sampai
angkot itu datang. Dia pamit dan tersenyum padaku, senyuman yang selalu
membuatku senang sekali. Sampai angkot yang dia tumpangi hilang di belokan sana
aku pun pergi dengan berterimaksih kepada hari ini.
****
Adzan maghribpun berkumadang dan
langit senja semakin indah. Aku hanya bisa membalas keindahan itu dengan
senyuman. Terimakasih untuk cerita dimasa lalu tentangnya. Selalu ku titipkan
rindu ini lewat warna jingga mu yang mempesona beserta doa dariku untuknya.
No comments:
Post a Comment