Friday, November 29, 2019

Sebuah Cerita Diwaktu Senja III


Angin berhembus menggerakan rerumputan di sampingku. Membuatku semakin nyaman untuk melihat langit sore yang sedang merekah. Langit senja saat ini tidak berlukis jingga namun tetap saja menawan. Merah mudah, biru, putih bercampur namun pasti membentuk suatu gambaran yang abstrak tapi cantik. Senyumku pun sesekali muncul karena terpesona olehnya. Hujan sudah tak lama berkunjung, alampun sakit. Beberapa bertahan namun ada juga yang tumbang karena sudah tak lama terjamah oleh sejuknya air langit.

****
Sudah dua hari ini aku tidak enak badan. Demam dan pening yang terasa memaksaku untuk tetap berbaring di ranjang kamar. Namun tetap saja, dia ada sebagai penawar sakit ini. Tak jarang dia mengingatkanku untuk makan teratur dan minum obat. Aku tau dia sedang sibuk oleh latihan drama disekolahnya untuk tugas kelas, maka aku pun berusaha memberinya semangat walau cuma bisa lewat dari pesan jarak jauh. Mempersiapkan segalanya supaya tampil maksimal. Hari ini hari terakhir latihan karena besok tugas drama nya ditampilkan dan ditonton oleh semua murid di sekolah. Aku yang ingin sekali menonton pentas seninya nekat pergi ke sekolah walau pusing ini menyiksa. Aaah dasar cinta.

Sesampainya di sekolah tidak susah aku untuk menemukan tempat dimana pentas seni itu di gelar, karena memang sudah ramai oleh murid lain. Aku yang berjalan lambat namun pasti berusaha untuk masuk di kerumunan itu supaya bisa menonton drama yang berlangsung. Ya. Melihat dia. Dia yang sadar setengah kaget melihat ku yang sedang menontonya dan disusul oleh senyumnya yang khas. Aah selalu senyum ituKu tonton semua dramanya hingga selesai supaya bisa berjumpa denganya.

“Ko akang ke sini. Emang udah sehat ya”
“Udah. Ini bisa sampe ke sekolah dengan selamat hehe”
“Padahal gak usah maksain, istirahat aja dirumah biar cepet sembuh”
“Dirumah juga bosen. Sekalian refreshing biar makin fit”
“Iya deh iya”

Berjumpa dengan mu maksudnya.

“Langsung pulang?” Tanyaku karena hari sudah mulai sore.
“Engga. Amel mau ke rumah bibi di sekitar sini”
“Yaudah. Bareng sekalian akang anter ya”
“Gak usah kan lagi sakit”
“Engga. Ini kuat buat datang ke sekolah. Apa lagi buat nganter amel. Gampang hehe”

Dengan sedikit memaksa akhirnya aku berhasil membujuk untuk mengantarnya ke rumah bibinya yang tak jauh dari sekolah. Entah kenapa, seperti sihir dari negeri dongeng. Pusing yang mengganggu ku sekejap menghilang ketika bisa bersamanya. Dia seperti obat. Semua sakit yang awalnya terasa, sampai membuatku harus dengan susah payah untuk datang ke sekolah sirna seketika. Senang akhirnya, bisa bertemu dan mengobrol dengannya.

Sesampai di rumah bibinya amel aku langsung pamit.

“Makasih loh udah di anter”
“Hahaha... Tenang, selalu menyenangkan pokoknya kalo sama amel. Yaudah akang pamit pulang ya”
“Iya. Sampe rumah banyakin istirahat biar sakitnya hilang.
“Iya iya. Bawel kamu. Dah..”
“Dah...”

Hilang ko mel, kalo ada di dekat kamu.

Senyumnya menjadi penutup pemjumpaan kami sore itu, sampai akhirnya aku pergi pulang. Sesampainya di rumah. Aku bergegas ke kamar dan langsung ambruk di ranjang karena tak kuasa menahan beban sakit yang terasa. Semua badan pegal. Namun senyum bahagia terlukis di wajahku.

****
Aku tersenyum untuk kesekian kalinya sambil menatap langit yang mulai meredup. Tentangnya bagiku, seperti halnya lukisan senja yang hampir setiap hari ku tatap. Selalu bisa membuat hariku menyenangkan. Dan ku harap selalu bisa merasakan itu meski sekarang hanya diwakilkan oleh lukisanNya di penghujung hari . Akupun bergegas ke tempat wudhu karena adzan maghrib baru saja selesai.

No comments:

Post a Comment