Semua yang ku rasakan adalah
suatu anugerah. Namun terkadang aku selalu membalikan fakta tersebut karena
kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Tapi dari semua itulah aku banyak
belajar bahwa pengharapan yang sesungguhnya hanyalah kepada Dia. Pemilik segalanya,
termasuk hidupku. Kini aku hanya bisa menatap langit senja yang Rabb lukis
untuk semua makhluk. Warna-warni yang menawan. Membuktikan kesempurnaan sang
pemilik alam semesta ini.
Senja dihari jumat, 24 juli 2015
Saat seperti inilah yang ku suka.
Berdiam diri menatap langit sore yang cerah dengan langit berlukiskan awan yang
indah serta warna-warnanya yang mampu menyihir setiap orang untuk takjub
melihatnya. Salah satunya adalah aku. Inilah salah satu hobi yang sering aku
lakukan (semenjak SMA). Jika melihat sore yang cerah rasanya tak bisa menahan
diri untuk duduk di luar menikmati sore hari yang tenang. Entahlah. Bagaikan
buku yang bisa ku tulis dengan kalimat tanpa kebohongan, aku bisa meceritakan
apa yang sebenarnya ingin ku luapkan di saat menikmati langit sore. Seperti
sekarang. Langit yang sedang ku tatap ini adalah teman bisu bahwa aku sedang
merindukan seseorang. Sebelumnya,
sesuatu di dalam hati membuatku tak karuan. Entah apa? Namun saat senja
tiba sekarang aku tahu apa yang sedang ku rasakan. Itu adalah “rindu”. Mungkin
bisa ku simpulkan. Waktu dimana aku bisa jujur dengan hatiku adalah saat senja
tiba.
Di
balik indahnya langit sore. Saat matahari akan terbenam. Selalu muncul dan
terlukis bayangan wajahnya. Dia yang selalu mampu membuatku gugup. Dia yang
selalu membuatku tersenyum. Dia yang sekarang ini sedang ku rindukan. Dan
dialah yang membuatku mampu menulis seperti ini. Dia itu bagaikan warna indah
dan cerah yang mewarnai kehidupanku. Membuatku banyak belajar tentang hati dan
perasaan.
Hai!
Kamu. Ya kamu. Yang selalu membuatku rindu kala senja tiba. Bagaimana kabarmu? Semoga
kamu di sana baik-baik saja. Maaf aku masih seperti ini. Berusaha dalam diam.
Namun berteriak dalam do’a. Maaf aku masih memiliki perasaan ini. Maaf juga. Aku merindukanmu. Tidak apa apakan?

No comments:
Post a Comment