Tuesday, September 1, 2015

Aku dan Sahabatku


Semua yang ku rasakan adalah suatu anugerah. Namun terkadang aku selalu membalikan fakta tersebut karena kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Tapi dari semua itulah aku banyak belajar bahwa pengharapan yang sesungguhnya hanyalah kepada Dia. Pemilik segalanya, termasuk hidupku. Kini aku hanya bisa menatap langit senja yang Rabb lukis untuk semua makhluk. Warna-warni yang menawan. Membuktikan kesempurnaan sang pemilik alam semesta ini.

Senja dihari jumat, 24 juli 2015

Saat seperti inilah yang ku suka. Berdiam diri menatap langit sore yang cerah dengan langit berlukiskan awan yang indah serta warna-warnanya yang mampu menyihir setiap orang untuk takjub melihatnya. Salah satunya adalah aku. Inilah salah satu hobi yang sering aku lakukan (semenjak SMA). Jika melihat sore yang cerah rasanya tak bisa menahan diri untuk duduk di luar menikmati sore hari yang tenang. Entahlah. Bagaikan buku yang bisa ku tulis dengan kalimat tanpa kebohongan, aku bisa meceritakan apa yang sebenarnya ingin ku luapkan di saat menikmati langit sore. Seperti sekarang. Langit yang sedang ku tatap ini adalah teman bisu bahwa aku sedang merindukan seseorang. Sebelumnya,  sesuatu di dalam hati membuatku tak karuan. Entah apa? Namun saat senja tiba sekarang aku tahu apa yang sedang ku rasakan. Itu adalah “rindu”. Mungkin bisa ku simpulkan. Waktu dimana aku bisa jujur dengan hatiku adalah saat senja tiba.
                Di balik indahnya langit sore. Saat matahari akan terbenam. Selalu muncul dan terlukis bayangan wajahnya. Dia yang selalu mampu membuatku gugup. Dia yang selalu membuatku tersenyum. Dia yang sekarang ini sedang ku rindukan. Dan dialah yang membuatku mampu menulis seperti ini. Dia itu bagaikan warna indah dan cerah yang mewarnai kehidupanku. Membuatku banyak belajar tentang hati dan perasaan.
                Hai! Kamu. Ya kamu. Yang selalu membuatku rindu kala senja tiba. Bagaimana kabarmu? Semoga kamu di sana baik-baik saja. Maaf aku masih seperti ini. Berusaha dalam diam. Namun berteriak dalam do’a. Maaf aku masih memiliki perasaan ini. Maaf juga. Aku merindukanmu. Tidak apa apakan?

No comments:

Post a Comment